loading…
Perjalanan penyusunan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merupakan sebuah kisah menarik dalam pengembangan bahasa nasional. Sejak awal, upaya ini menjadi landasan penting untuk menjaga dan melestarikan bahasa Indonesia.
Kamusa ini diawali dengan penyusunan Kamus Bahasa Indonesia antara tahun 1974 hingga 1983. Dipimpin oleh Sri Sukesi Adiwimarta, kamus ini menjadi titik awal yang krusial bagi lahirnya KBBI yang kita kenal saat ini.
Sejarah Penyusunan Kamus Besar Bahasa Indonesia
Pada tahun 1988, KBBI edisi pertama diluncurkan dengan jumlah entri sekitar 62 ribu. Proses penyusunannya melibatkan banyak ahli bahasa dan akademisi, yang bekerja keras memastikan akurasi dan kelengkapan isi kamus.
Edisi kedua muncul pada tahun 1991, dengan peningkatan menjadi 72 ribu entri. Penambahan entri ini mencerminkan perkembangan bahasa Indonesia yang terus berubah dan berkembang mengikuti zaman.
Tahun 2000 menandai lahirnya edisi ketiga KBBI, yang membawa lebih banyak entri dengan peningkatan yang signifikan. Setiap edisi baru tidak hanya memperbarui entri, tetapi juga meningkatkan kualitas definisi yang dibuat.
Pada tahun 2008, KBBI Edisi Keempat dirilis dengan total sekitar 90 ribu entri. Momen ini juga menjadi penting karena mulai melibatkan lebih banyak kontributor yang berdedikasi dalam tim redaksi.
Saat itu, semakin muncul kesadaran akan pentingnya menyimpan dan memelihara istilah-istilah lokal serta kata-kata baru yang muncul dalam penggunaan sehari-hari.
Transformasi Digital Kamus Besar Bahasa Indonesia
Pada tahun 2016, KBBI mengalami transformasi yang signifikan dengan peluncuran KBBI Edisi Kelima. Langkah ini menandai pergeseran dari format cetak ke digital, memungkinkan akses lebih luas bagi masyarakat.
KBBI Daring menjadi terobosan penting dalam memfasilitasi pengguna untuk mencari kata dengan cepat dan efisien. Ini memperlihatkan komitmen Badan Bahasa untuk terus mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan pengguna.
Semenjak transisi tersebut, pengolahan data dilakukan sepenuhnya secara digital. Hal ini memungkinkan pencatatan entri baru secara akurat dan real-time, serta memberikan kebebasan bagi pengguna untuk mengakses informasi kapan saja.
Dengan begitu, KBBI Daring kini memiliki lebih dari 108 ribu entri yang dapat diakses secara terbuka. Hal ini memperlihatkan bukan hanya jumlah yang meningkat, tetapi juga kualitas dari definisi dan contoh penggunaan yang disediakan.
Transformasi digital ini juga mengingatkan kita akan pentingnya bahasa sebagai alat komunikasi yang berkembang seiring dengan perubahan sosial dan budaya di masyarakat.
Pentingnya KBBI dalam Pelestarian Bahasa dan Budaya
KBBI bukan hanya sekadar kamus, tetapi juga merupakan sumber informasi penting dalam pelestarian bahasa Indonesia. Kamus ini menjadi referensi utama bagi pelajar, peneliti, serta masyarakat umum dalam belajar bahasa.
Keberadaan KBBI membantu menjaga kelestarian istilah-istilah lokal yang mungkin terancam punah. Melalui pengumpulan kata-kata baru, KBBI berperan dalam mendokumentasikan kekayaan budaya Indonesia.
Kamus ini juga berfungsi sebagai alat pendidikan yang efektif, terutama bagi generasi muda. Dengan KBBI, mereka dapat belajar tentang bahasa dengan cara yang menarik dan interaktif.
Dalam konteks globalisasi, KBBI turut berkontribusi dalam memperkenalkan bahasa Indonesia ke dunia luar. Melalui akses yang lebih mudah, lebih banyak orang luar yang dapat mempelajari dan memahami bahasa kita.
Perkembangan KBBI sejalan dengan kebutuhan masyarakat akan sumber informasi yang terpercaya dan akurat. Ini menunjukkan bahwa pemerintah dan para ahli berkomitmen untuk menjaga dan mengembangkan bahasa Indonesia agar tetap relevan.














