loading…
Pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), serta tingginya arus informasi mengubah banyak pola kehidupan manusia, termasuk anak dan remaja. Mereka pun tumbuh di tengah tekanan akademik, sosial, dan emosional yang makin kompleks.
Dalam konteks ini peran sekolah dewasa ini ikut berubah. Pendidikan tidak lagi tentang pencapaian nilai akademik, tetapi perlu menjadi ruang aman bagi siswa untuk belajar menghadapi tantangan, mengelola emosi, dan beradaptasi dengan perubahan.
Head of School North Jakarta Intercultural School (NJIS), Ezra Alexander, menilai perlu adanya penyesuaian cara pandang dalam melihat tujuan pendidikan. Jika selama ini tolok ukur kesuksesan siswa ditentukan oleh nilai, kini standar tersebut tidak lagi relevan.
“Anak dianggap sukses di sekolah bukan sekadar saat dia meraih nilai A, tetapi ketika mereka akhirnya mampu menghadapi situasi sulit, beradaptasi dengan perubahan, mengelola emosi, serta memandang tantangan sebagai bagian dari proses belajar dan bertumbuh,” ujar Ezra, melalui siaran pers, Kamis (8/1/2026).
Ia menjelaskan bahwa ketangguhan (resilience) dan fleksibilitas (adaptability) perlu dibangun melalui pengalaman belajar yang nyata, baik di sekolah maupun di rumah.
Pendidikan yang efektif saat ini harus mencakup berbagai aspek untuk memfasilitasi perkembangan holistik siswa. Hal ini tidak hanya menyangkut akademik, tetapi juga mental dan emosional mereka yang semakin tertekan.
Di tengah kekhawatiran akan masa depan, anak-anak memerlukan lingkungan yang mendukung pertumbuhan mereka baik sebagai individu maupun anggota sosial. Sekolah mesti menjadi tempat yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga nilai-nilai hidup yang penting.
Pentingnya Ketangguhan dan Fleksibilitas dalam Pendidikan Modern
Ketangguhan dan fleksibilitas adalah dua aspek krusial yang harus diintegrasikan dalam proses pembelajaran. Sekolah harus mampu menghasilkan individu yang tidak hanya cerdas, tetapi juga tangguh dalam menghadapi rintangan.
Dalam menghadapi era digital yang cepat berubah, ketangguhan siswa menjadi modal utama dalam menjalani kehidupan. Kondisi yang serba tidak menentu memerlukan kemampuan untuk beradaptasi dan balas terhadap berbagai situasi yang dihadapi.
Fleksibilitas juga sangat penting, terutama dalam proses pembelajaran. Sekolah perlu menerapkan metode yang memungkinkan siswa untuk lebih aktif dan kritis, memupuk daya pikir mereka agar mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di sekitar.
Selain itu, mengajarkan keterampilan sosial seperti komunikasi dan kerja sama juga tak kalah vital. Kemampuan ini akan membantu siswa dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial mereka dan menumbuhkan rasa empati.
Cerita Sukses dari Sekolah yang Menerapkan Konsep Baru
Beberapa sekolah telah mulai menerapkan pendekatan baru dalam pendidikan dengan mendukung ketangguhan dan fleksibilitas siswa. Mereka menyediakan ruang untuk eksperimen dan kegagalan sebagai bagian dari proses belajar.
Salah satu contoh sukses adalah program mentoring yang diadakan untuk mendukung perkembangan emosional siswa. Program ini memungkinkan siswa untuk berbagi pengalaman dan belajar dari satu sama lain, menciptakan rasa memiliki dan dukungan di dalam komunitas sekolah.
Dengan pendekatan yang lebih membebaskan, siswa dapat menemukan minat dan bakat mereka tanpa tekanan nilai yang berlebihan. Situasi yang lebih santai ini menciptakan produktivitas dan inovasi yang lebih baik.
Penerapan teknologi juga turut membantu, dengan memanfaatkan platform digital untuk kolaborasi dan komunikasi. Anak-anak lebih termotivasi dan kreatif untuk mengeksplorasi ide-ide baru.
Peran Keluarga dalam Membangun Ketangguhan Anak
Keluarga memiliki peranan yang tidak kalah penting dalam membantu anak-anak membangun ketangguhan dan fleksibilitas. Orang tua perlu menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan mental dan emosional anak.
Keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak, baik di sekolah maupun di rumah, sangat mempengaruhi pikiran dan sikap anak. Dengan cara ini, anak-anak merasa didukung dan terbuka untuk berbagi pengalaman dengan orang tua mereka.
Memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar mandiri juga merupakan langkah strategis. Pembelajaran berbasis pengalaman seperti ini memberikan mereka rasa percaya diri dan kemandirian yang dibutuhkan.
Komunikasi yang baik juga sangat penting. Orang tua perlu mendengarkan dan memahami kebutuhan serta tantangan yang dihadapi anak, sehingga bisa memberikan dukungan yang tepat.
Pendidikan yang holistik memerlukan komitmen dari semua pihak, baik di sekolah maupun di rumah. Melalui kerja sama yang erat, ketangguhan dan fleksibilitas akan lebih cepat terbangun dalam diri setiap siswa.














