Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengungkapkan bahwa kehadiran Presiden Prabowo dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 tidak dapat terlaksana. Hal ini disebabkan oleh tumpang tindihnya jadwal agenda kenegaraan di Indonesia pada waktu yang bersamaan dengan KTT tersebut.
“Jadwal KTT G20 di Afrika Selatan bertepatan dengan beberapa agenda Presiden di Tanah Air,” ungkap Teddy. Keterpaksaan ini mengakibatkan Wapres Gibran memimpin delegasi Indonesia dalam forum internasional tersebut.
Untuk memastikan keterwakilan, Prabowo juga mengutus Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Lodewijk Freidrich Paulus, sebagai utusan khusus untuk menyerahkan surat resmi permohonan ketidakhadiran kepada Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa.
Komitmen Indonesia dalam G20 dan Sikap Global South
Pada pidatonya di forum G20, Gibran menekankan pentingnya posisi Indonesia dalam tatanan ekonomi global. Dia menegaskan bahwa setiap negara harus diberikan hak untuk menentukan arah ekonominya sendiri tanpa adanya intervensi dari negara lain.
“Kita pertegas posisi Global South di tatanan ekonomi global. Setiap negara berhak menentukan arah ekonominya sendiri. Kerja sama tidak boleh mendikte atau menciptakan ketergantungan,” katanya dengan penuh keyakinan.
Dalam kesempatan tersebut, Gibran juga menjelaskan berbagai program unggulan Indonesia, di antaranya hilirisasi industri, Makan Bergizi Gratis (MBG), dan inklusi keuangan melalui QRIS. Dia menyebutkan bahwa hilirisasi ini mencakup berbagai sektor, bukan hanya tambang, tetapi juga pertanian, maritim, dan digital.
Pentingnya Inklusi Keuangan melalui QRIS
Gibran menyoroti bahwa inklusi keuangan merupakan tren penting dalam pengembangan ekonomi, terutama bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Dia menilai QRIS sebagai sistem pembayaran yang memberikan kemudahan yang signifikan bagi sektor UMKM.
“Sistem pembayaran yang inklusif, sederhana, dan biaya rendah sangat penting bagi UMKM yang mayoritas tidak bankable,” ungkapnya. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya perhatian pemerintah terhadap kebutuhan pelaku usaha kecil.
Sementara itu, program Makan Bergizi Gratis juga mendapatkan respon positif dari berbagai pihak. Gibran menyebutkan bahwa ada banyak negara yang terkejut dengan jangkauan program tersebut.
Program Makan Bergizi Gratis yang Ambisius
“Kita targetnya 80 juta murid dan ibu hamil, dan banyak yang kaget. Wah, Indonesia mampu ini? Mampu,” tegasnya. Target ambisius ini menjadi bukti bahwa Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan masyarakat.
Gibran lepas landas menuju Afrika Selatan dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma pada Jumat (21/11/2025) pukul 09.30 WIB sebagai kepala delegasi Indonesia. Kehadirannya di KTT G20 diharapkan mampu membawa suara Indonesia dalam menentukan arah perekonomian global.
Dengan pengalaman dan sikap tegasnya, Gibran berusaha mengukir prestasi yang membanggakan bagi Indonesia di mata dunia. KTT G20 menjadi ajang penting untuk menampilkan komitmen dan kontribusi nyata Indonesia dalam tatanan global.














