Program Creative Digital English (CDE) yang diselenggarakan oleh Fakultas Humaniora Universitas Binus menjadi sorotan utama dalam festival multikultural CultureVerse 2025. Dengan menggabungkan elemen bahasa, seni, dan budaya populer, CDE menunjukkan transformasi bahasa Inggris sebagai media ekspresi kreatif yang sejalan dengan perkembangan generasi muda.
Di era media sosial ini, generasi muda semakin akrab dengan konsep digital storytelling. Dengan dukungan program unggulan CDE, mereka dapat mengekspresikan diri melalui berbagai bentuk, mulai dari visual hingga musikal, menciptakan pengalaman yang lebih mendalam.
Festival CultureVerse 2025, yang berlangsung di Kampus Kemanggisan Universitas Binus, dibuka pada 20 Oktober 2025 dengan kompetisi Word to Canvas Adaptation. Kompetisi ini mengajak siswa SMA untuk mengubah puisi menjadi karya seni visual, merepresentasikan bagaimana kata-kata dapat bertransformasi menjadi bentuk yang lebih menarik.
Dalam kompetisi ini, bukan hanya sekadar perlombaan, tetapi juga sebuah refleksi bagaimana generasi muda mampu mengadaptasi dan menginterpretasikan kata-kata dalam bentuk yang beragam. Terdapat sinergi antara karya visual dan ide yang diungkapkan, menciptakan ruang untuk eksplorasi kreatif.
Peran Seni dan Bahasa dalam Ekspresi Kreatif Modern
Canvas Talk menjadi salah satu sesi penting dalam festival ini, di mana para peserta berbagi cerita di balik karya yang mereka hasilkan. Momen ini memberikan nuansa kolaboratif dalam antara seni tulis dan visual, serta kemampuan verbal dalam menyampaikan opini. Seni tak lagi hanya untuk dinikmati, tetapi juga sebagai sarana mendiskusikan makna.
Talk Show Creative Expression pada 21 Oktober menampilkan penampilan dari sejumlah seniman populer. Di antaranya adalah Saykoji, rapper ternama, serta Aziz ‘Comi’, dosen dari CDE dan anggota band Payung Teduh, yang akan memukau dan menginspirasi generasi muda dengan karya-karya mereka.
Sofi Meloni, alumni CDE, menekankan pentingnya literasi dan kreativitas sebagai bekal bagi generasi muda. Menurutnya, bahasa dan tulisan bukan hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga mampu mengubah cara pandang seseorang terhadap dunia. Acara ini merupakan platform yang ideal untuk menghidupkan semangat kreatif tersebut.
Diskusi ini tidak hanya mencakup aspek teknis berbahasa, tetapi juga bagaimana cara penulisan yang efektif dapat menyentuh audiens. Sofi menekankan bahwa setiap karya memiliki potensi untuk menjadi alat perubahan, terutama dalam konteks sosial yang lebih luas.
Tradisi Berbicara dan Berkarya dalam Budaya Kontemporer
Dalam acara ini, ada penekanan pada bagaimana budaya kontemporer mendorong generasi muda untuk lebih berani bersuara. Trend kolaborasi antara berbagai disiplin seni, seperti musik, puisi, dan seni visual, memberikan kesempatan lebih besar bagi individu untuk mengekspresikan diri. Hal ini menjadi penting untuk mengatasi tantangan mental yang sering dihadapi oleh generasi muda saat ini.
Kesempatan ini juga memperkuat pemahaman bahwa kreativitas tidak mengenal batasan. Dengan menggabungkan kemampuan literasi dan seni, generasi muda mampu berkontribusi dalam diskusi yang lebih luas, sehingga menghasilkan pemikiran yang lebih kritis dan mendalam terhadap isu-isu sosial.
Objektif dari program CDE tidak hanya untuk meningkatkan keterampilan bahasa, tetapi juga untuk menciptakan koneksi yang lebih erat antara budaya tradisional dan modern. Melalui program ini, diharapkan akan ada lebih banyak generasi muda yang terinspirasi untuk terus berkarya.
Kesadaran akan pentingnya kolaborasi antara seni dan bahasa menunjukkan bahwa generasi muda kini lebih membuka diri terhadap kemungkinan baru. Acara seperti CultureVerse menjadi jembatan bagi mereka untuk memahami dan mengembangkan ide-ide mereka lebih lanjut.
Membangun Komunitas Kreatif melalui Festival Budaya
Festival CultureVerse mengundang banyak seniman, penulis, dan kreator lainnya untuk berbagi pengalaman serta keahlian mereka. Ini menciptakan lingkungan yang sangat mendukung bagi generasi muda untuk mengeksplorasi potensi diri. Dalam konteks ini, kehadiran seniman terkenal seperti Saykoji menambah daya tarik festival.
Di luar festival, banyak alumni dari program CDE yang telah berhasil dalam karier mereka. Mereka menunjukkan bahwa dengan keterampilan yang tepat, dan dukungan dari komunitas, kualitas karya dapat meningkat dan menjadi lebih berdampak. Keberanian untuk mengambil langkah awal sangat penting dalam pencarian potensi kreatif mereka.
Penting pula untuk diingat bahwa setiap karya yang lahir dari proses kreatif adalah cerminan dari perjalanan seorang individu. Dalam konteks ini, CDE menempatkan diri sebagai pionir dalam mengembangkan minat dan bakat anak muda dalam bidang seni dan bahasa.
Melalui berbagai kegiatan positif yang diadakan oleh CDE, diharapkan generasi muda dapat menemukan jati diri mereka. Upaya untuk membangun komunitas yang peduli dan saling mendukung akan mengarah pada peningkatan kualitas karya seni yang dihasilkan.














