Dalam upaya menjaga kelestarian sumber daya alam, perhatian terhadap populasi ikan bilih (Mystacoleucus padangensis) sangatlah penting. Spesies ikan ini, yang menjadi ikon Danau Singkarak, kini menghadapi ancaman serius akibat penurunan jumlah dan ukuran yang terus-menerus.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh para peneliti menunjukkan bahwa ukuran ikan bilih kini jauh lebih kecil dibandingkan dekade yang lalu. Penurunan ukuran ini tidak hanya berdampak pada ekosistem danau, tetapi juga pada mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada ikan bilih.
Ancaman Terhadap Populasi Ikan Bilih dan Faktor Penyebab
Salah satu faktor utama yang berkontribusi pada penurunan populasi ikan bilih adalah meningkatnya tekanan penangkapan. Penelitian terbaru menunjukkan aktivitas penangkapan yang dilakukan dengan menggunakan alat tangkap yang beragam di sekitar danau.
Setidaknya, terdapat banyak unit alat tangkap yang beroperasi di wilayah ini, termasuk jaring insang, bubu, dan jala. Aktivitas tersebut berujung pada tangkapan harian yang sangat signifikan, dengan produksi yang mencapai dua ton per hari.
Kondisi ini diperparah dengan informasi bahwa sebagian besar ikan yang tertangkap berada dalam kondisi bertelur. Artinya, mereka ditangkap pada saat yang sangat kritis untuk reproduksi, yang semakin mempercepat penurunan populasi ikan bilih di danau.
Dampak Ekonomi dan Sosial dari Penurunan Populasi
Penurunan populasi ikan bilih memiliki dampak besar terhadap perekonomian lokal. Hasil tangkapan ikan yang berkurang mempengaruhi pendapatan banyak keluarga yang bergantung pada ikan bilih sebagai sumber mata pencaharian utama.
Ikan bilih tidak hanya dipasarkan secara lokal, tetapi juga dikirim ke berbagai daerah, termasuk Riau dan Jambi. Harga yang cukup menjanjikan, dengan ikan segar dihargai sekitar Rp 30 ribu per kilogram, menjadi daya tarik bagi para nelayan, meskipun dalam kenyataannya, produksinya terus menurun.
Pada sisi lain, pengolahan ikan bilih menjadi produk bernilai lebih tinggi juga menjadi alternatif yang menarik bagi banyak pelaku usaha. Dengan harga produk olahan yang mencapai Rp 70 ribu per kilogram, hal ini menunjukkan potensi ekonomi yang masih bisa digali dari spesies yang terancam punah ini.
Praktik Penangkapan yang Merugikan Lingkungan
Berdasarkan hasil studi, penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan menjadi ancaman serius. Metode penangkapan yang melibatkan peralatan seperti setrum dan bahan peledak merusak ekosistem perairan secara keseluruhan.
Alat-alat ini tidak hanya menargetkan ikan bilih, tetapi juga menghancurkan habitat lain di sekitarnya. Dengan destabilisasi ekosistem ini, dampak jangka panjang bagi keseluruhan biota perairan dapat menjadi sangat merugikan.
Contoh konkret dari penyalahgunaan alat tangkap ini dapat ditemukan di beberapa titik perairan di Danau Singkarak. Melalui upaya rehabilitasi dan pengelolaan sumber daya yang lebih bijaksana, diharapkan populasi ikan bilih dapat dipulihkan secara bertahap.














