loading…
Status mahasiswa UWKS YouTuber Resbob atau Muhammad Adimas Firdaus Putra Nasihan dicabut oleh pihak kampus. Foto/IG Resbob.
Resbob diketahui masih berstatus sebagai mahasiswa aktif saat video tersebut tersebar luas di media sosial. Dalam tayangan live streaming yang direkam saat dirinya mengemudi, Resbob mengeluarkan pernyataan bernada penghinaan yang diarahkan kepada Viking, julukan suporter Persib Bandung serta masyarakat Sunda. Potongan video tersebut dengan cepat menyebar dan memicu kecaman luas dari publik hingga sejumlah figur publik.
Baca juga: Azizah Salsha Tolak Mediasi, Bigmo dan Resbob Memohon Kesempatan Kedua
Akibat pernyataannya itu, Resbob juga telah dilaporkan ke Polda Jawa Barat atas dugaan penghinaan. Meski sempat menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf secara terbuka, amarah publik belum sepenuhnya mereda.
Bahkan, pada Sabtu (13/12/2025), massa mendatangi kediaman Resbob dan menuntut pertanggungjawaban. Dampak dari kasus ini juga dirasakan oleh keluarganya, di mana pihak keluarga mengaku menerima ancaman dari orang tak dikenal.
Baca juga: Bigmo dan Resbob Minta Maaf ke Azizah Salsha, Berharap Proses Hukum Dihentikan
Menanggapi polemik yang kian meluas, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) mengeluarkan sikap resmi terkait status akademik Resbob, melalui akun Instagram resminya @uwksmediacenter.
Peristiwa yang melibatkan mahasiswa UWKS bernama Muhammad Adimas Firdaus Putra Nasihan, atau lebih dikenal sebagai Resbob, menguak banyak isu sosial di tengah masyarakat. Di satu sisi, ada yang mengecam tindakan penghinaan yang dilakukannya, sementara di sisi lain, muncul simpati terhadap kondisi keluarganya yang menjadi korban situasi ini. Hal ini menunjukkan betapa kompleksnya dampak dari sebuah tindakan yang dianggap sepele namun menyangkut perasaan banyak orang.
Ketika video tersebut tersebar, banyak netizen yang langsung bereaksi dengan kekecewaan. Tak sedikit yang mengaku merasa tersentuh terkait dengan penghinaan terhadap suku yang mengakibatkan luka mendalam bagi masyarakat Sunda. Kesadaran akan pentingnya berbicara dengan penuh rasa hormat semakin mengemuka setelah insiden ini.
Mengapa Kasus Ini Menjadi Sorotan Publik? Kenali Aspek Sosialnya
Kasus ini menjadi sorotan bukan hanya karena kata-kata kasar yang diucapkan, tetapi juga karena adanya latar belakang yang mendasari tindakan tersebut. Resbob bukan hanya seorang pribadi, tetapi juga representasi dari generasi muda yang seharusnya sadar akan nilai budaya dan sosial. Di tengah kemajuan teknologi, mutlanya teknologi komunikasi juga membawa konsekuensi baru terkait perilaku sosial.
Sikap dan tindakan yang ditunjukkan oleh Resbob merefleksikan ketidakpahaman akan konflik antarsuku yang masih relevan di Indonesia. Dalam konteks ini, isu rasisme dan diskriminasi menjadi semakin penting untuk diamati dan dibahas secara terbuka.
Reaksi yang datang dari berbagai pihak menunjukkan bahwa masyarakat kita semakin kritis terhadap sikap intoleransi. Tidak hanya sekadar mengecam, tetapi banyak yang diharapkan agar ada langkah preventif yang diambil untuk mencegah kejadian serupa di kemudian hari, baik dari segi pendidikan maupun kebijakan di tingkat lebih tinggi.
Dampak Hukum yang Dihadapi Resbob dan Implikasinya
Selain dampak sosial, Resbob kini harus menghadapi konsekuensi hukum yang berat. Pelaporan terhadapnya ke pihak berwajib menjadi langkah awal yang menunjukkan betapa seriusnya situasi ini. Para penegak hukum harus bekerja ekstra untuk mengambil tindakan sesuai hukum yang berlaku, tidak hanya untuk Resbob, tetapi juga untuk masyarakat yang dirugikan.
Proses hukum ini memicu lebih banyak diskusi mengenai pencegahan ujaran kebencian di internet. Banyak yang berharap agar kejadian ini menjadi pembelajaran bagi semua pihak, khususnya generasi muda dalam menggunakan media sosial dengan bijak.
Dengan adanya ancaman hukum, Resbob mungkin perlu merenungkan kembali tindakan dan perkataannya. Ini adalah kesempatan untuk tumbuh dan belajar dari kesalahan yang telah dibuat, meskipun jalan menuju perbaikan tidak selalu mudah.
Kedudukan Universitas dalam Kasus Ini: Tindakan dan Tanggung Jawab
Universitas Wijaya Kusuma Surabaya mengambil langkah drastis dengan mencabut status mahasiswa Resbob. Tindakan ini menunjukkan komitmen institusi pendidikan untuk tidak menjadikan perilaku merugikan sebagai bagian dari citra akademik mereka. Melalui tindakan ini, universitas ingin menegaskan bahwa mereka berdiri di atas prinsip-prinsip etika dan moral yang harus dijunjung tinggi.
Kebijakan universitas ini juga memberikan sinyal bahwa tindakan diskriminatif atau menghina tidak boleh ditoleransi, terlepas dari siapa pelakunya. Ini menciptakan atmosfer di mana mahasiswa lainnya bisa merasa aman dan dihargai, serta memfasilitasi ruang untuk diskusi yang konstruktif.
Langkah ini tentu saja diharapkan dapat mengurangi stigma negatif yang mungkin melekat pada universitas akibat tindakan salah satu mahasiswanya. Selain itu, ini menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa tanggung jawab sosial harus menjadi bagian dari setiap tindakan individu, terutama dalam konteks pendidikan tinggi.














