Obat penurun berat badan golongan glucagon-like peptide-1 (GLP-1) seperti Ozempic dan Wegovy semakin populer untuk mengatasi masalah obesitas. Meski menawarkan harapan bagi banyak orang, sebuah studi terbaru memperingatkan bahwa berat badan bisa kembali meningkat signifikan setelah penggunaan dihentikan.
Riset yang dilakukan di University of Oxford menunjukkan bahwa pasien yang berhenti mengonsumsi obat penurun berat badan ini cenderung kembali ke berat badan awal dalam waktu kurang dari dua tahun. Temuan ini mengejutkan karena mereka yang menghentikan pengobatan mengalami peningkatan berat badan hampir empat kali lebih cepat dibandingkan orang yang menurunkan berat badan melalui pola makan sehat dan olahraga.
Penelitian ini tidak hanya menggambarkan perubahan fisik, tetapi juga menyoroti efek jangka panjang dari penggunaan obat-obatan tersebut. Saat pasien menghentikan penggunaan obat, mereka sering kali tidak mampu mempertahankan hasil penurunan berat badan yang telah diraih.
Implikasi Merugikan dari Penghentian Obat Penurun Berat Badan
Menurut Susan Jebb, seorang profesor diet dan kesehatan populasi di University of Oxford, perubahan yang terjadi saat menghentikan obat dapat sangat mendasar. Ketika obat yang menekan nafsu makan tidak lagi digunakan, pasien sering kali menghadapi kesulitan untuk mengendalikan pola makan yang sehat.
Proses penurunan berat badan melalui diet alami memerlukan usaha lebih untuk mengelola nafsu makan dan menerapkan strategi yang tepat. Sebaliknya, obat GLP-1 memberikan efek instan yang sering kali membuat tubuh tidak siap untuk merespons perubahan setelah penghentian.
Berdasarkan analisis yang melibatkan lebih dari 9.000 pasien, tim peneliti menemukan bahwa dalam 1,7 tahun setelah penghentian obat, berat badan biasanya kembali ke titik awal. Selain itu, penanda risiko diabetes dan penyakit jantung juga kembali ke tingkat sebelum pengobatan hanya dalam waktu 1,4 tahun.
Obesitas dan Kesehatan Jangka Panjang
Obesitas dianggap sebagai penyakit kronis, dan seperti masalah kesehatan lainnya, membutuhkan penanganan jangka panjang. John Wilding, seorang profesor kedokteran di University of Liverpool mengungkapkan bahwa obesitas dapat kambuh setelah penghentian pengobatan jika tidak didukung oleh perubahan gaya hidup yang berkelanjutan.
Penelitian dari University of Cambridge menyoroti aspek lain dari penggunaan obat ini, yaitu terkait dengan kualitas nutrisi. Tanpa bimbingan yang tepat, pengguna berisiko mengalami kekurangan nutrisi dan kehilangan massa otot yang signifikan.
Dalam studi tersebut, tercatat bahwa massa tubuh tanpa lemak bisa mencapai 40 persen dari total berat badan yang hilang selama pengobatan. Ini menunjukkan betapa pentingnya perhatian terhadap asupan gizi saat menggunakan obat penurun berat badan.
Pentingnya Pendekatan Terpadu dalam Penurunan Berat Badan
Berdasarkan hasil penelitian, para ahli menekankan bahwa obat-obatan penurun berat badan harus disertai dengan program nutrisi yang tepat. Jika tidak, ada risiko bahwa satu masalah kesehatan akan digantikan dengan masalah lain yang lebih serius di kemudian hari.
Kurangnya asupan nutrisi seperti protein, serat, vitamin, dan mineral dapat berdampak pada kesehatan secara keseluruhan. Oleh karena itu, sangat penting bagi pengguna obat penurun berat badan untuk mendapatkan dukungan medis dan nutrisi yang berkelanjutan.
Selain itu, membangun kebiasaan hidup yang sehat melalui pola makan seimbang dan aktivitas fisik juga menjadi kunci untuk mempertahankan berat badan yang sehat. Edukasi mengenai gaya hidup sehat perlu diperkuat agar program penurunan berat badan tidak berakhir dengan cepat.











