Dalam dunia literasi, terdapat fenomena menarik di mana pembaca merasakan dampak emosional yang mendalam setelah membaca karya-karya tertentu. Baru-baru ini, buku memoar yang mengungkapkan pengalaman hidup secara eksplisit telah menjadi topik perbincangan hangat di media sosial. Banyak pembaca mengaku merasa tertrigger hingga mengalami kelelahan mental setelah menyelesaikan membaca, yang memunculkan pertanyaan tentang bagaimana konten buku dapat mempengaruhi kesehatan mental seseorang.
Psikolog klinis menjelaskan bahwa respons emosional ini tidak terjadi tanpa sebab. Memoar yang berisi cerita intim dan penuh emosi dapat menjadi cermin pengalaman hidup pembaca, yang pada akhirnya memicu perasaan yang mungkin tertanam dalam diri mereka.
Salah satu penyebab utama perasaan tertekan adalah kecenderungan pembaca untuk mengidentifikasi diri mereka dengan narasi dalam buku. Ini adalah alasan mengapa penting untuk lebih memahami dampak psikologis yang bisa ditimbulkan oleh tulisan yang menyentuh ranah tersebut.
Memahami Respons Emosional pada Pembaca
Perasaan yang diekspresikan oleh pembaca saat membaca buku yang menyentuh kehidupan pribadi mereka sering kali dipicu oleh kenangan dan pengalaman masa lalu. Ketika seseorang membaca kisah yang mirip dengan pengalaman hidup mereka sendiri, berbagai emosi negatif mungkin muncul ke permukaan. Ini adalah proses psikologis yang natural dan bisa dijelaskan secara ilmiah.
Ketidakstabilan emosional, seperti finansial yang buruk, pelecehan, dan manipulasi emosional, sering kali dapat memicu reaksi kuat saat seseorang bernostalgia. Psikolog menjelaskan bahwa pengalaman-pengalaman ini bisa mempengaruhi reaksi mental dan emosional seseorang saat berinteraksi dengan buku-buku tertentu.
Oleh karena itu, penting bagi pembaca untuk menyadari bahwa mereka mungkin lebih sensitif terhadap stres setelah membaca memoar yang menggugah emosi. Ini bisa terjadi tanpa disadari, dan terkadang pembaca mungkin tidak siap menghadapi perasaan tersebut.
Perbedaan antara Triggered dan Re-Traumatized
Dua kondisi yang perlu dipahami sehubungan dengan respons emosional ini adalah ‘being triggered’ dan ‘re-traumatized’. Ketika seseorang merasa ‘triggered’, mereka mungkin mengalami emosi yang tidak nyaman, tetapi masih menyadari bahwa mereka berada di masa kini. Ini adalah pengalaman yang bersifat sementara, dan emosi tersebut biasanya hanya bertahan selama proses membaca.
Sebaliknya, re-traumatized terjadi ketika kenangan lama muncul kembali dengan lebih kuat, bahkan setelah selesai membaca. Dalam kondisi ini, emosi yang dialami lebih mendalam dan dapat mengganggu kehidupan sehari-hari seseorang. Oleh karena itu, memahami perbedaan antara kedua kondisi ini sangat penting untuk pengelolaan kesehatan mental.
Psikolog menekankan bahwa proses pengolahan emosi dalam konteks ini sangat bergantung pada latar belakang pribadi cerita yang dibaca. Jika cerita tersebut mengingatkan seseorang akan pengalaman traumatis di masa lalu, maka dampaknya bisa lebih serius.
Strategi untuk Membaca dengan Sehat
Bagi mereka yang merasa tertarik untuk membaca buku memoar namun khawatir akan dampak emosionalnya, terdapat beberapa langkah yang bisa diambil untuk melindungi kesehatan mental. Pertama, penting untuk membangun kesadaran sebelum mulai membaca. Pembaca harus menyadari bahwa mereka memiliki hak untuk berhenti membaca jika konten terasa terlalu berat.
Langkah selanjutnya adalah menjaga dual awareness, yang artinya menyadari isi cerita sekaligus memahami bahwa mereka berada di lingkungan yang aman saat ini. Teknik grounding sederhana, seperti merasakan permukaan tempat duduk, dapat membantu menjaga keseimbangan emosi selama proses membaca.
Setelah selesai membaca, penting untuk melakukan refleksi terhadap kondisi emosional diri. Jika emosi terasa berlebihan atau tidak nyaman, penting untuk melakukan praktik perawatan diri yang efektif. Ini bisa berupa meditasi, berolahraga, atau melakukan aktivitas yang menyenangkan untuk menstabilkan kembali perjalanan emosional.
Pentingnya Mendengarkan Batas Diri Sendiri
Mendengarkan batas diri merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan mental. Tidak semua orang harus merasa terpaksa untuk menyelesaikan buku yang terlalu berat secara emosional bagi mereka. Pembaca harus belajar untuk menghormati perasaan mereka dan mengenali kapan saatnya untuk berhenti jika kondisi mental tidak mendukung.
Pengalaman membaca seharusnya menjadi sebuah perjalanan yang memperkaya, bukan hanya menimbulkan stres. Dengan pendekatan yang tepat, pembaca bisa menikmati manfaat emosional dari membaca sambil tetap menjaga kesehatan mental mereka. Ini juga berkaitan dengan tanggung jawab penulis untuk sadar akan dampak dari cerita yang mereka bagikan.
Dengan cara ini, pembaca dapat menghadapi dunia literasi dengan lebih terinformasi dan siap secara emosional. Menghadapi tema yang sulit tidak harus selalu negatif, asalkan ada kesadaran dan strategi yang tepat untuk mendukung kesehatan mental.













