Motion Picture Association (MPA) telah mengambil langkah tegas terhadap Meta Platforms, yang dikenal sebagai perusahaan induk Instagram. Tindakan ini terjadi setelah Instagram mengumumkan bahwa akun remaja akan dibatasi untuk melihat konten yang dipandu oleh rating film PG-13 secara default.
Pengumuman itu menimbulkan jambatan antara kepentingan perusahaan dan lembaga sertifikasi film. MPA pun mengeluarkan surat resmi kepada Meta pada 28 Oktober 2025, mengekspresikan keberatan atas penggunaan rating film yang dianggap salah dan menyesatkan.
Bulan lalu, Meta menginformasikan bahwa pembaruan untuk akun remaja tersebut hanya akan memberi izin pada mereka untuk mengakses konten yang sesuai dengan level rating PG-13. MPA, dalam suratnya, menegaskan bahwa mereka tidak dilibatkan dalam proses pengumuman dari Meta yang cukup krusial ini.
Selanjutnya, MPA menjelaskan bahwa pendekatan Meta terhadap pembatasan konten tidak mengikuti proses kurasi yang mereka lakukan dalam menentukan peringkat. Lembaga ini berpendapat bahwa pendekatan berbasis otomatisasi tersebut berisiko merusak kepercayaan publik terhadap rating yang telah ada selama puluhan tahun.
MPA mencermati kekhawatiran bahwa ketidakakuratan dalam sistem filter otomatis dapat menurunkan kredibilitas rating PG-13. Dalam konteks ini, MPA menyebut bahwa perbandingan antara metode penilaian Meta dengan sistem rating mereka merupakan kesetaraan yang tidak valid.
Pentingnya Sertifikasi dan Rating dalam Dunia Konten Digital
Dalam dunia yang semakin berfokus pada digitalisasi, pentingnya sertifikasi dan sistem rating film semakin terasa. MPA menjelaskan, proses tinjauan manusia dalam penilaian film memberikan keakuratan dan kredibilitas yang tidak dapat dicapai dengan kecerdasan buatan saja.
Tanpa adanya penilaian yang ketat, pengguna, terutama remaja, berpotensi terpapar konten yang tidak sesuai dengan usia mereka. Oleh karena itu, MPA menyalurkan aspirasi untuk menjaga integritas sistem rating film yang selama ini terpercaya di masyarakat.
Dengan pemanfaatan kecerdasan buatan yang kurang dapat diandalkan, bisa saja terjadi kesalahan dalam mengategorikan konten. Hal ini tentu menimbulkan keraguan di kalangan masyarakat terhadap rating yang ada dan tidak sejalan dengan norma yang telah ditetapkan.
Reaksi Meta terhadap Tuntutan MPA
Merespons surat MPA, Meta tegaskan bahwa mereka tidak berniat untuk menghentikan penggunaan rating PG-13. Dalam klarifikasi, Meta menekankan bahwa mereka tidak pernah mengklaim bahwa akun remaja mereka diakui secara resmi oleh MPA atau memiliki sertifikasi yang sesuai.
Menurut Meta, mereka selalu berupaya transparan mengenai peluncuran fitur-fitur baru termasuk pembatasan konten untuk remaja. Oleh karena itu, mereka merasa tidak melanggar hukum atau norma apapun dengan kebijakan yang telah ditetapkan tersebut.
Di samping itu, Meta juga menyoroti peran kecerdasan buatan dalam menjaga agar konten yang terlihat oleh pengguna remaja tetap sesuai. Meskipun MPA keberatan, Meta percaya bahwa pendekatan ini tetap memberikan perlindungan yang diperlukan bagi penggunanya.
Konsekuensi Jangka Panjang dari Kontroversi Ini
Kontroversi antara MPA dan Meta dapat memunculkan dampak jangka panjang, tidak hanya bagi kedua pihak tetapi juga bagi pengguna. Keberadaan rating dan sertifikasi film jelas krusial untuk membedakan konten yang pantas untuk remaja dan dewasa.
Jika kesalahpahaman ini tidak terselesaikan, kepercayaan publik terhadap sistem rating yang ada bisa menurun. Hal ini dapat berdampak pada industri film dan media secara keseluruhan, yang sudah berjuang untuk menemukan keseimbangan antara inovasi dan tanggung jawab.
Lebih jauh lagi, kasus ini mungkin mendorong kompensasi dan regulasi di bidang konten digital. Seberapa besar Meta dapat memanfaatkan kecerdasan buatan tanpa membahayakan kepercayaan audiens akan menjadi perhatian utama di masa depan.














