Kepala Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 13 Kupang, Felipina Agustina Kale, menganggap bahwa program Sekolah Rakyat adalah langkah nyata menuju keadilan sosial yang diusung pemerintah. Program ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan akademik, tetapi juga sebagai upaya untuk mengatasi kemiskinan antargenerasi melalui pendidikan yang lebih bermutu.
Felipina menyatakan bahwa Sekolah Rakyat memiliki visi jauh lebih luas daripada sekadar akademik. Dengan tujuan membangun karakter, program ini dirancang untuk memberi anak-anak dari keluarga prasejahtera kepercayaan diri dan cara berpikir yang lebih positif, sehingga mereka dapat menghadapi tantangan di masa depan.
Di SRMP 13 Kupang, Felipina melihat kenyataan bahwa siswa seringkali membawa beban emosional dari latar belakang mereka yang kurang beruntung. “Banyak dari mereka yang merasa minder,” ujarnya, menggambarkan tantangan yang dihadapi dalam membantu anak-anak tersebut beradaptasi di lingkungan pendidikan yang baru.
Peran Sekolah Rakyat dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan
Program Sekolah Rakyat diharapkan dapat meruntuhkan stigma negatif yang melekat pada anak-anak dari keluarga kurang mampu. Melalui metode pembelajaran yang bersinergi dengan lingkungan berasrama, siswa diharapkan dapat mengalami perubahan positif dalam pola pikir dan perilaku mereka.
Pentingnya pendidikan bukan hanya untuk mencapai angka kelulusan saja, tetapi juga untuk membentuk karakter yang kuat. Felipina menjelaskan bahwa siswa diajarkan nilai-nilai kepemimpinan dan kerja sama melalui berbagai kegiatan yang dirancang untuk menguatkan hubungan sosial antar siswa.
Kondisi di sekolah juga dirancang untuk menciptakan iklim yang aman dan mendukung perkembangan mental anak. Setiap siswa mendapat perhatian khusus agar bisa belajar dengan baik, meskipun dengan latar belakang yang berbeda-beda.
Implementasi Pendidikan Berbasis Karakter di SRMP 13 Kupang
Pendidikan di SRMP 13 Kupang tidak hanya terfokus pada teori, tetapi juga pada praktik yang melekat dalam kehidupan sehari-hari. Semua siswa diwajibkan untuk menjalani rutinitas harian yang dimulai dari dini hari, menciptakan disiplin yang baik.
Meski mayoritas siswa beragama non-Islam, mereka dilibatkan dalam kegiatan keagamaan bersama. “Semua siswa bangun pukul 4 pagi untuk melakukan aktivitas pagi secara serempak,” jelas Felipina, menegaskan pentingnya rutinitas spiritual dalam pendidikan mereka.
Interaksi antar siswa di asrama sangat mendukung pembelajaran. Dengan adanya wali asrama yang berperan sebagai orang tua pengganti, anak-anak merasa lebih diperhatikan dan dicintai, menciptakan suasana yang nyaman untuk belajar.
Tantangan yang Dihadapi dalam Proses Pembelajaran
Walau program ini mempunyai banyak manfaat, Felipina mengakui bahwa terdapat beberapa tantangan dalam pelaksanaannya. Salah satunya adalah membantu siswa mengatasi rasa minder yang sering muncul karena latar belakang mereka yang kurang beruntung.
Jumlah tenaga pendidik yang terbatas seringkali menjadi kendala dalam memberikan perhatian optimal kepada setiap siswa. Para pendidik diharapkan untuk selalu berinovasi dalam metode pengajaran agar lebih sesuai dengan kebutuhan siswa yang beragam.
Meskipun ada tantangan, Felipina percaya bahwa dengan kerja keras dan komitmen, hasil positif akan terlihat. “Keberhasilan mereka bukan hanya sekedar nilai ujian, tetapi juga bagaimana mereka bisa menjadi pribadi yang lebih baik,” ungkapnya optimis.











